Pada hari ini Senin, 23 Oktober 2017, MAN Magelang Kabupaten Magelang melaksanakan PERINGATAN HARI SANTRI NASIONAL YANG KE-3. Prinsip Hari Santri Nasional, merupakan awal dari adanya Ketetapan Presiden Joko Widodo pada hari Kamis, 22 Oktober 2015 atau 9 Muharram 1437 Hijriyah yang menetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Sehubungan dengan hal tersebut, maka MAN Magelang memperingati Hari Santri Nasional dengan kegiatan antara lain : Upacara Bendera, Kultum, Tadarus Al Qur’an, Lantunan Shalawat Nabi dan Do’a bersama. Kegiatan berlangsung dengan meriah karena seluruh sivitas akademika MAN Magelang mengenakan pakaian ala santri. Yakni bagi laki-laki mengenakan sarung, baju koko dan berpeci, bagi perempuan mengenakan pakaian muslimah yang syar’i.

Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional tidak lepas dari prinsip Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945. Di hadapan konsul-konsul Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura, bertempat di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama di Jl. Boeboetan VI/2 Soerabaja, Fatwa Resolusi Jihad NU digaungkan dengan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan:

“..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).”

Karena tanpa Resolusi Jihad NU dan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan ini, tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Berdasarkan Resolusi Jihad tersebut, ditetapkanlah Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober.

Santri merupakan sebutan bagi para siswa yang belajar mendalami agama di pesantren. Biasanya para santri ini tinggal di pondok atau asrama pesantren yang telah disediakan, namun ada pula santri yang tidak tinggal di tempat yang telah disediakan tersebut yang biasa disebut dengan santri kalong sebagaimana yang telah penulis kemukakan pada pembahasan di depan.

Menurut Zamakhsyari Dhofir dalam buku Tradisi Pesantren berpendapat bahwa: “Santri yaitu murid-murid yang tinggal di dalam pesantren untuk mengikuti pelajaran kitab-kitab kuning atau kitab-kitab Islam klasik yang pada umumnya terdiri dari dua kelompok santri yaitu: – Santri Mukim yaitu santri atau murid-murid yang berasal dari jauh yang tinggal atau menetap di lingkungan pesantren. – Santri Kalong yaitu santri yang berasal dari desa-desa sekitar pesantren yang mereka tidak menetap di lingkungan kompleks peantren tetapi setelah mengikuti pelajaran mereka pulang

Dalam menjalani kehidupan di pesantren, pada umumnya mereka mengurus sendiri keperluan sehari-hari dan mereka mendapat fasilitas yang sama antara santri yang satu dengan lainnya. Santri diwajibkan menaati peraturan yang ditetapkan di dalam pesantren tersebut dan apabila ada pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.

Santri menurut Syaikh Azzarnuji dalam ta’limul muta’allim disebut Tholib, orang yang sedang menuntut ilmu atau pelajar/siswa atau mahasiswa.

Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah mengatakan pada Kitab Ta’limul Muta’allim dalam sebuah syairnya :

اَلَا لَاتَنَالُ العِلْمَ اِلَّابِسِتَّةِ # سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَابِبَيَانِ

ذُكَاءِوَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍوَبُلْغَةٍ # وَإِرْشَادِأُسْتَاذِوَطُوْلِ زَمَانِ

Ingatlah oleh para santri/siswa bahwa tidak akan mendapatkan ilmu kecuali harus melalui 6 perkara (1) cerdas, (2) rakus akan ilmu. (3) Sabar. (4) Bekal yang cukup. (5) Petunjuk dan pembelajaran dari guru, (6) lama waktu yang digunakan untuk belajar. Misalnya dalam 1 hari minimal 8 jam untuk belajar formal, 4 jam untuk non-formal, 8 jam istirahat, 4 jam untuk aktualisasi diri.

Menurut Syekh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim,

Santri harus rajin belajar, tidak boleh malas. Harus selalu berniat yang baik dan selalu merealisasikan niat baiknya secara optimal dalam keseharian. Santri harus menghormati orang tua dan guru. Santri harus tawadlu’ kepada orang yang lebih tua siapapun dia dan sayang kepada yang lebih muda. Santri pantang untuk melakukan kekerasan dalam situasi dan kondisi apapun. Oleh karena itu marilah kita upayakan diri kita masing-masing dengan memposisikan sebagai santri dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau dibuat menjadi akronim yang ditulis menggunakan tulisan arab kata santri terdiri dari 5 huruf yaitu :

س ن ت ر ي

سَاتِرٌ عَنِ اْلعُيُوْبِ (artinya orang yang menutup aib diri senidiri dan orang lain)

نَاءِبٌ عَنِ الشُّيُوْخِ (artinya orang yang siap menggantikan para syaikh/guru/kyai)

تَاءِبٌ عَنِ الذُّنُوْبِ (artinya orang yang selalu bertaubat dari dosa dan kesalahan)

رَاغِبٌ فِي الدَّرْسِ (artinya orang yang mencintai pembelajaran)

يَقِيْن (artinya memiliki kepercayaan diri tinggi)

Santri harus menutup aib (aurat, cacat, cela, kekurangan) diri sendiri, keluarga dan orang lain. Dilarang membeberkan aib kepada siapapun.
Santri harus siap untuk menggantikan Kyai apabila diperlukan, baik menggantikan menjadi imam shalat, mengisi pengajian dengan membaca kitab-kitab kuning, maupun menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Santri harus selalu bertaubat setiap saat dari segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan dan dosa pada masa yang akan datang.
Santri harus mencintai pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melengkapi bekal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Santri harus memiliki kepercayaan tinggi dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Hal ini memberi pemahaman bahwa santri adalah orang yang selalu yakin dan mantap dengan cita-citanya. Menurut syaikh Syarafudin Yahya Al Imriti Rahimahullah dalam Kitab Nadham ‘Imriti disebutkan bahwa santri harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi :

إِذِ الْفَتَي حَسْبَ اِعْتِقَاَ دِهِ رُ فِعْ # وَ كُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْـتَفِعْ

Artinya: “ketinggian derajat pemuda, tergantung pada kepercayaan dirinya. Setiap orang yang tidak mempunyai kepercayaan diri, maka ia tidak ada gunannya”.

I’tiqod itu harus ada pada setiap pemuda, dan harus dibarengi dengan himmah yang mulia, luhur dan terhormat. Baik dari aspek lahiriah maupun bathin. Sehingga santri tidak pernah memiliki kekhawatiran apapun dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat, tetapi selalu bermuara pada ridlo Allah SWT dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bis shawab

a.n. Kepala,

Waka Humas dan Keislaman,

Syaiful Faizin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *